INVESTIGASI KELOMPOK (GROUP INVESTIGATION) UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN MAHASISWA TERHADAP MATERI PERKULIAHAN

Oleh: Ruswandi Hermawan

Abstrak

Penggunaan investigasi kelompok dalam perkuliahan akan menimbulkan efek positif  bagi dosen dan terutama bagi mahasiswa karena investigasi kelompok memfasilitasi mahasiswa untuk melakukan investigasi mandiri terhadap materi perkuliahan. Sehingga bisa diperoleh kebermaknaan (meaningfull learning) manakala pengetahuan itu ia cari dan temukan sendiri daripada diberi dan disuapi. Materi perkuliahan yang sangat berkaitan erat dengan kepentingan dan kebutuhannya sebagai mahasiswa memancing antusiasme tersendiri dalam proses pembelajaran. baik saat di kelas maupun untuk langsung menerapkannya di kelas tempat mereka mengajar. Interaksi yang terjadi selama pembelajaran baik antara dosen dan mahasiswa maupun intra mahasiswa mengembangkan kemampuan komunikasi dalam menyampaikan ide, gagasan, dan wawasan yang dimiliki. Secara tidak langsung hal ini menjadi pembiasaan tersendiri bagi mahasiswa untuk berbagi ilmu dan pengalaman sehingga bisa memperluas wawasan dan membuka cakrawala berpikirnya. Kepedulian mahasiswa sebagai guru dan calon guru meningkat. Nampak dari antusiasme mahasiswa dalam mengkaji dan langsung menerapkan juga melaksanakan materi kuliah ini.

 

Pendahuluan

Penggunaan metode investigasi kelompok dalam perkuliahan diyakini akan mampu membekali mahasiswa dengan konsep-konsep dalam menggali materi ajar secara lebih mendalam sehingga harapan untuk lebih menguasai konten matakuliah  menjadi kenyataan karena mahasiswa diyakini akan memiliki dan menguasai sejumlah kompetensi keahlian dalam bidang mata kuliah yang digelutinya yang tentu saja ditopang dengan sejumlah kompetensi keahlian-keahlian lainnya yang diperoleh dari mata-mata kuliah lainnya.

Penggunaan investigasi kelompok dalam perkuliahan matakuliah diyakini dapat (a) menggali konsep-konsep konten matakuliah melalui investigasi kelompok yang diperoleh dari buku rujukan utama dan buku-buku sumber lain yang relevan, (b) menggali dan sekaligus berlatih konten matakuliahnya melalui penggunaan metode pembelajaran yang sesuai dengan persoalan yang dihadapi untuk peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa, (c) berlatih untuk menyampaikan hasil investigasi kelompok pada teman-teman satu kelasnya, dan (d) berlatih untuk memberikan komentar atau pendapat pada paparan hasil investigasi kelompok lain secara langsung atau memberikan komentar pada penampilan kelompok sendiri secara langsung.

Manfaat Investigasi Kelompok

Sedangkan manfaat yang diperoleh dari penggunaan investigasi kelompok dalam perkuliahan yang diyakini mahasiswa akan dapat (a) mempunyai kemampuan untuk melakukan model pembelajaran yang variatif sebagai alternatif pembelajaran di tempat mengajarnya kelak, (b) memudahkan/membantu mahasiswa merancang penelitian yang akan dilakukan guna untuk kepentingan skripsinya sebagai syarat kelulusan jenjang S1, (c) membiasakan mahasiswa untuk mengkomunikasikan ide dengan efektif, (d) mempunyai kompetensi profesional sebagai guru.

 

Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation)

Investigasi kelompok secara filosofis beranjak dari paradigma konstruktivis, yakni terdapat suatu situasi yang di dalamnya para siswa berinteraksi dan berkomunikasi satu sama lain dengan berbagai informasi dan melakukan pekerjaan secara kolaboratif untuk menginvestigasi suatu masalah, merencanakan, mempresentasikan serta mengevaluasi kegiatan mereka.

Berdasarkan pembahasan yang diungkapkan oleh The Network Scientific Inquiry Resources and Connections bahwa:

Group investigation is an organizational medium for encouraging and guiding students involvement in learning. Student actively share in influencing the nature of events in their classroom. By communicating freely and cooperating in planning and carrying out their chosen topic of investigation, they can achieve more than they would as individuals. The final result of the group`s work reflects each member`s contribution, but it is intellectivally richer than work done individually by the same student.

 

Aunurrahman (2005) mengemukakan bahwa pendapat diatas memberi penekanan pada eksistensi investigasi kelompok sebagai wahana untuk mendorong dan membimbing keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya mengenai keterlibatan siswa dalam pembelajaran sebagai bentuk partisipasi belajar siswa.

Desain program pembelajaran berdasarkan metode investigasi kelompok menurut Sharan dan Sharan (1994) terdiri dari 6 (enam) tahap, sebagaimana dijelaskan dalam tabel 2 tentang tahap-tahap yang dilakukan dalam metode investigasi kelompok di bawah ini.

Tabel 1:

Tahapan dalam Menerapkan Investigasi Kelompok

Stage 1:

The Whole Class Determines Subtopics and Organizes into Research Group.

Stage 2:

Groups Plan Their Investigations.

Stage 3:

Groups Carry Out Their Investigations.

Stage 4:

Groups Plan Their Presentations.

Stage 5:

Groups Make Their Whole-Class Presentations

Stage 6:

Teacher and Students Evaluate Their Projects.

 

Selanjutnya Sharan dan Sharan (1994) mengilustrasikan kegiatan-kegiatan dalam Investigasi Kelompok dalam gambar di bawah ini.

Gambar 1:

 

Kualitas mahasiswa sebagai generasi penerus perlu terus ditingkatkan untuk dapat berperan dalam mambangun bangsa ini. Oleh karena itu berbagai upaya peningkatan kualitas baik dari segi fasilitas maupun pembelajaran terus dilakukan. Dalam hal peningkatan kualitas pembelajaran matakuliah ini berkaitan juga dengan peningkatan kualitas proses dan hasil belajar para mahasiswa.

Dewasa ini, beragam model pembelajaran hadir melengkapi khasanah dunia pendidikan termasuk di Indonesia. Yang harus ditingkatkan tidak hanya pada aspek kognitif saja, meskipun masih menempati prioritas pertama, akan tetapi yang lebih penting adalah penguasaan keterampilan sesuai dengan kompetensi profesional yang seyogyanya dimiliki mahasiswa sebagai calon generasi penerus bangsa.

Maka untuk memenuhi kompetensi yang diharapkan dari mahasiswa diperlukan sebuah pembelajaran yang tidak hanya memberi pengetahuan, namun juga membekalinya dengan keterampilan yang membutuhkan pengalaman belajar yang juga bisa diterapkan kelak dalam pekerjaannya. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Oleh karena itu digunakan metode Investigasi Kelompok (Group Investigation) sebagai alternatif pemecahan masalah berkaitan dengan peningkatan kualitas mahasiswa peningkatan kompetensi profesionalnya sebagai calon generasi penerus bangsa. Di mana telah dipaparkan bahwa metode investigasi kelompok ini mampu melahirkan kebermaknaan belajar (meaningfull learning) dalam diri mahasiswa, mengembangkan sikap mandiri, partisipatif dan interaktif sosial, membuka cakrawala berpikirnya, serta meningkatkan curiousity dalam diri.

Penggunaan metode Investigasi kelompok dalam perkuliahan erat kaitannya dengan peran dan fungsi matakuliah untuk selalu meningkatkan kualitas mahasiswa Salah satunya yang penting yaitu dengan cara meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar mahasiswa dalam perkuliahan.

Perencanaan Perkuliahan dengan Investigasi Kelompok

Penggunaan Investigasi Kelompok ini dilaksanakan dalam proses pembelajaran dengan 16 kali pertemuan, yang dimulai sejak awal kuliah sampai dengan rakhir kuliah, dengan langkah-langkah pelaksanaan perkuliahan sebagai berikut: 1) perkenalan perkuliahan; 2) presentasi dan diskusi tentang matakuliah; 3) perencanaan penerapan Investigasi Kelompok dalam proses pembelajaran; 4) pelaksanaan penggunaan Investigasi Kelompok dalam perkulihan; 5) penilaian hasil belajar perkuliahan.

 

  1. Perkenalan Perkuliahan

Tak kenal maka tak sayang, demikian ungkapan yang kerap kita dengar saat bertemu dengan sesuatu yang baru. Begitupun dengan mata kuliah yang akan melaksanakan metode investigasi kelompok yang tentu saja merupakan materi baru bagi mahasiswa yang baru mengontraknya. Sehingga bagaimana pentingnya materi dari mata kuliah ini, dan bagaimana pentingnya mata kuliah ini untuk diikuti diproyeksikan menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan dengan antusias dan sungguh-sungguh.

Sebagai tugas pengenalan awal terhadap materi dari mata kuliah yang diikuti  mahasiswa diminta untuk membaca dua buah buku yang relevan dan membuat rangkumannya (tugas terstruktur).

 

  1. Presentasi dan Diskusi tentang Makuliah

Perkuliahan pada pertemuan berikutnya, mahasiswa diminta untuk membaca buku rujukan utama yang telah tersedia, mengkajinya, dan membagi kelas menjadi beberapa kelompok sesuai jumlah BAB yang terdapat dalam buku rujukan utama tersebut untuk kemudian dipresentasikan pada pertemuan berikutnya. Mahasiswa yang sudah bekerja ataupun yang belum bekerja diminta untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang biasa ditemukan.

 

  1. Perencanaan Perkuliahan dengan Investigasi Kelompok

Kegiatan-Kegiatan dalam Investigasi Kelompok selama perkuliahan

No

Sasaran/Target

Metode/Strategi

Sumber Belajar

1. Penguasaan konsep-konsepr melalui investigasi kelompok dari buku rujukan utama dan buku-buku sumber lain yang relevan. Ceramah dan Investigasi Kelompok Buku rujukan utama  dan buku-buku lain yang relevan.
2. Berlatih untuk melakukan investigasi secara berkelompok yang berkenaan dengan topik yang menjadi tugas kelompoknya. Investigasi Kelompok untuk melakukan tugas sesuai beban dan tanggung jawab setiap anggota. Buku rujukan tentang investigasi kelompok dan buku-buku lain tentang belajar bekerja sama
3. Penguasaan materi pelajaran atau bahan belajar yang terkandung dalam buku rujukan utama Investigasi kelompok dan atau secara individual dalam mengkaji materi pelajaran yang akan dijadikan bahan ajar Buku rujukan utama perkuliahan
4. Berlatih dalam menyampaikan hasil investigasi kelompok pada teman-teman satu kelasnya Investigasi kelompok dan menjalankan tugas yang diberikan. Buku rujukan tentang belajar bekerja sama dan buku-buku rujukan lain
5 Berlatih dalam memberikan komentar atau pendapat pada paparan hasil investigasi kelompok lain secara langsung atau memberikan komentar pada penampilan kelompok sendiri secara langsung atau melalui pemutaran ulang hasil rekaman video (kalau ada).

Investigasi kelompok dan atau supervisi klinis dan belajar merefleksi diri serta apa yang dilakukan orang lain.Hasil paparan orang lain dan rekaman video paparan kelompoknya atau kelompok lain pada saat mempresentasikan hasil investigasi kelompok

 

 

Pelaksanaan Perkuliahan dengan Investigasi Kelompok

 

 

Perkuliahan dengan Investigasi Kelompok dilaksanakan dalam 6 (enam) tahap selama 1 semester dalam 16 kali pertemuan.

Stage 1:

The Whole Class Determines Subtopics and Organizes into Research Group

Pada pertemuan awal kelas menentukan pembagian topik yang akan dikaji oleh masing-masing kelompok peneliti. Pembagian kelompok dilakukan untuk mengkaji buku rujukan utama Penentuan jumlah kelompok disesuaikan dengan jumlah bab/topik yang akan dikaji. Berikut adalah contoh pembagiannya:

Research Group

Subtopic

Kelompok II : €  Mi

€  Da

€  Dh

€  RhBAB I:Kelompok II:€  Ra

€  Ri

€  SoBAB II:Kelompok III:€  Ag

€  Ia

€  NaBAB III:Kelompok IV:€  Cu

€  Di

€  SuBAB IV:Kelompok V:€  As

€  Fa

€  InBAB V:Kelompok VI:€  Ek

€  Sr

€  WuBAB VI:

 

 

Stage 2:

Groups Plan Their Investigations

Setiap kelompok merancang investigasinya, sesuai dengan bahan investigasi masing-masing. Dilakukan sebagai tugas terstruktur dan mandiri tanpa tatap muka di kelas.

 

Stage 3:

Groups Carry Out Their Investigations

Kelompok investigasi melakukan investigasi sesuai dengan bahan investigasi yang telah ditentukan dan dirancang. Masih dilakukan sebagai tugas terstruktur dan mandiri, tanpa tatap muka. Sebagai hasil tertulis dari investigasi, setiap kelompok membuat rangkuman dari materi yang dikaji.

 

Stage 4:

Groups Plan Their Presentations

Setelah investigasi kelompok selesai dilaksanakan, mahasiswa merencanakan bagaimana materi akan dipresentasikan. Tidak ada ketentuan baku dalam presentasi. Yang penting meliputi penyampaian materi kajian, diskusi berlangsung secara sehat dan terbatas, dalam arti fokus di materi kajian, dan diperoleh solusi.

 

 

Stage 5:

Groups Make Their Whole-Class Presentations

Setiap kelompok mendapat giliran untuk mempresentasikan hasil investigasinya. Kelompok tampil secara berurutan. Setiap pertemuan satu kelompok atau paling banyak dua kelompok sehingga presentasi dan diskusi berlangsung dalam bentuk panel. Mahasiswa yang sudah bekerja lebih banyak menemukan gagasan mengenai materi perkuliahan ini. Apalagi permasalahan yang sering dialami di tempat kerja menjadi pemicu dan pemacu mahasiswa untuk benar-benar memahami materi dalam perkuliahan ini. Sehingga diskusi bisa berlangsung hangat.

 

Stage 6:

Teacher and Students Evaluate Their Projects

Dosen dan mahasiswa mengevalusi keberlangsungan proyek investigasi. Apakah sudah cukup sebagai bekal mahasiswa minimal untuk membuat rancangan implementasi?. Setelah semua kelompok tampil mempresentasikan hasil investigasinya mahasiswa diberi kesempatan untuk mengemukakan ide atau gagasan yang sangat mungkin muncul dan belum terungkapkan baik sebelum, pada saat, ataupun setelah presentasi.

 

Penilaian Hasil Belajar Perkuliahan

Penilaian hasil belajar dalam perkuliahan dilaksanakn sesuai dengan ketentuan Sistem Kredit Semester (SKS). Bahan penilaian diperoleh dari skor kehadiran, tugas mandiri dan terstruktur, Ujian Tengah Semester (UTS) berupa presentasi dan hasil investigasi dari setiap kelompok. Ketiga penilaian tersebut merupakan penilaian proses. Sedangkan untuk penilaian produk, mahasiswa diberi tugas merancang sebuah tugas akhir sekaligus sebagai Ujian Akhir Semester (UAS), yang disahkan oleh pengampu matakuliah yang dikumpulkan pada akhir semester.

 

Daftar Pustaka

Aunurrahman. (2005). Model Investigasi Kelompok untuk Meningkatkan Kemampuan Profesional Calon Guru dalam Proses Pembelajaran Nilai-nilai Moral Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Disertasi Doktor pada FPS UPI Bandung: tidak diterbitkan.

Harefa, Andreas. (2000). Menjadi Manusia Pembelajar. Jakarta: Kompas.Hopkins,

David. (1993) A Teacher’s Guide to Classroom Research, 2nd Edition. Buckingham: Open University Press.

Hubbard dan Power (1993) The art of clssroom inquiry: a handbook for teacher-researchers, Heinemann, New Hampshire.

Kasihani Kasbolah E.S. (1998/1999) Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Dikti, Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Jakarta.

Sharan, Y dan Sharan, S. (1994). Group Investigation in the Cooperative Social Studies Classroom.  Menlo Park: Addison-Wesley Publishing Company.

Soedarsono (1996) Pendoman pelaksanaan penelitian tindakan kelas: bagian kedua rencana, desain dan implementasi, Depdikbud, Yogyakarta.

Stahl, Roben J. (1994) Cooperative Learning in Social Studies. California: Addison-Wesley Publishing Company.

Stoller, Fredricka L. (1996) Teacher Supervision: Moving towards an interactive approach. Journal of Forum. 38 (2), 2-17.

Wiles, Kimball dan Lovell, John T. (1983) Supervision For Better Schools, 5th Edition. New Jersey: Prentice-Hall.

 

 

 

Life Skills yang Relevan untuk Keperluan Pendidikan di Sekolah

Oleh: Ruswandi Hermawan

Abstrak

Tulisan ini adalah kajian lanjutan tentang Pola Induk Pengembangan Model Penerapan “Life Skills” dalam Konteks Pendidikan di Sekolah Menengah Umum seperti yang ditulis oleh Djam’an Satori dan Udin S. Saud (2001), yang diangkat kembali dalam tulisan pembuka jurnal ini. Pemahaman terhadap konteks “life skills” dapat dilakukan dengan mengkaji pertanyaan-pertanyaan yang dimaksudkan untuk keperluan pengembangan kurikulum yang menekankan pada “life skills”. Pertanyaan-pertanyaan itu di antaranya adalah: Kecakapan hidup (life skills) apakah yang relevan yang harus dibekalkan dan dipelajari siswa di sekolah? Bahan belajar apakah yang harus dipelajari siswa untuk mengerti dan memahami life skills itu? Kegiatan dan pengalaman belajar apakah yang harus dilakukan siswa untuk dapat menguasai life skills itu? Fasilitas, alat, dan sumber belajar yang bagaimanakah untuk bisa menguasai life skills itu? Bagaimanakah caranya mengetahui bahwa siswa  telah menguasai life skills itu? Tulisan ini hanya mengkaji pertanyaan tentang life skill apa yang relevan yang harus dibekali dan dipelajari  siswa di sekolah sedangkan kajian terhadap pertanyaan-pertanyaan lainnya akan disampaikan pada tulisan lain. Life skills yang relevan untuk keperluan pendidikan di sekolah  di antaranya adalah life long learning, group (complex) thinking, effective communication, collaboration, responsible citizenship, employability

Pendahuluan

Pendidikan diberi peranan yang diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan yang diharapkan masyarakat. Pendidikan adalah alat untuk mencapai harkat dan martabat manusia ke tingkat yang paling tinggi dengan kepemilikan hak asasi, kebebasan, kemuliaan, serta pemenuhan kebutuhan pribadi seseorang untuk mengaktualisasikan dirinya. Semakin lama seseorang mengeyam pendidikannya, maka orang itu akan semakin makmur dalam kehidupan yang dialaminya (Gowin, 1981). Dengan jalan pendidikan di daerah dan di subsidi pemerintah federal, masyarakat di Amerika telah mencapai standar kehidupan yang paling tinggi (SEDL, 1994).

Masyarakat Indonesia mengharapkan generasi mudanya agar memperoleh pendidikan dengan standar dan kualitas yang tinggi untuk dapat menghasilkan generasi-generasi penerus bangsa sehingga pendidikan tersebut dapat mencetak pemimpin, manajer atau innovator yang efektif dan mampu menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan yang disebabkan oleh teknologi dan globalisasi seperti sekarang ini. Oleh karena itu, siswa di sekolah perlu dibekali dengan ketrampilan dan kecakapan hidup (life skills) yang diperlukan untuk berperanserta secara efektif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Empat pilar atau fokus pendidikan yang dicanangkan UNESCO (Delors, 1996)  apabila diterapkan dengan baik di sekolah-sekolah (di Indonesia) akan mampu membekali siswa dengan kecakapan hidup yang dibutuhkan siswa tersebut untuk bekal hidup di masyarakat. Empat pilar pendidikan itu adalah belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk berbuat (learning to do), belajar untuk menjadi jati diri (learning to be), dan belajar untuk hidup bermasyarakat dalam damai (learning to live to together) merupakan pegangan yang perlu dijadikan landasan dan pedoman dalam pembelajaran di sekolah-sekolah untuk dapat menghasilkan generasi-generasi penerus bangsa sesuai harapan masyarakat dan bangsa Indonesia.

Selama ini kegiatan  pembelajaran yang dipraktekkan di sekolah belum dapat meraih seluruh kemampuan, bakat, minat dan potensi siswa-siswanya. Memang di sekolah, siswa mempelajari fakta dan gagasan tetapi mereka belum dapat menggunakannya secara efektif karena pembelajaran yang dipraktekkan di sekolah-sekolah tersebut masih banyak yang menempatkan siswa sebagai pendengar ceramah yang disampaikan guru di depan kelas dengan memerankan keutamaan guru sebagai sumber dan penyampai informasi kepada siswa. Kini, di jaman seperti ini, pengetahuan, sikap dan ketrampilan menjadi sangat penting untuk dapat memberdayakan diri siswa dengan belajar untuk menemukan, menafsirkan, menilai, dan menggunakan informasi serta  melahirkan gagasan dalam menentukan sikap untuk keperluan pengambilan keputusan (Depdiknas, 2002).

Untuk mencapai empat pilar pendidikan yang disertai kepemilikian bekal kecakapan hidup (life skills) yang dibutuhkan siswa dari hasil perolehan pendidikannya di sekolah, siswa seyogyanya mendapatkan pendidikan di sekolah yang mempraktekkan pembelajaran dengan memberdayakan siswa untuk berinteraksi dengan lingkungan fisik dan sosial agar siswa memahami pengetahuan yang dikaitkan dengan lingkungan sekitarnya (learning to know). Kemudian, praktek pembelajaran tersebut memfasilitasi siswa agar melakukan perbuatan atas dasar pengetahuan yang dipahaminya untuk memperkaya pengalaman belajarnya (learning to do). Dari hasil belajar seperti itu, siswa diharapkan dapat membangun kepercayaan dirinya supaya dapat menjadi jati dirinya sendiri (learning to be) dan sekaligus juga berinteraksi dengan berbagai individu dan kelompok yang beranekaragam dan berbeda akan membentuk kepribadian yang memahami kemajemukan dan melahirkan sikap toleran dengan keanekaragaman dan perbedaan yang dimiliki masing-masing individu (learning to live together) sesuai hak masing-masing.

Konteks “life skills” dalam Pendidikan di Sekolah

Tulisan ini adalah kajian lanjutan dari apa yang ditulis oleh Djam’an Satori dan Udin Saud  (2001), yang juga diangkat kembali dalam tulisan pembuka jurnal ini terutama dari pertanyaan yang menyangkut  “life skills” yang relevan bagi keperluan pendidikan di sekolah sebagai berikut: kecakapan hidup (life skills) apakah yang relevan yang harus dibekalkan dan dipelajari siswa di sekolah?

Pemahaman terhadap pertanyaan ini dapat membantu para pengembang kurikulum dari tingkat yang paling atas sampai tingkat paling bawah di sekolah yaitu guru untuk didorong supaya dapat membekali siswa-siswanya  dengan life skills yang dibutuhkan untuk  keperluan bekal hidupnya di  masyarakat dalam menyongsong masa depan yang akan dihadapinya.

Life skills yang Relevan untuk Keperluan Pendidikan di Sekolah

Life skills adalah pengetahuan dan sikap yang diperlukan seseorang untuk bisa hidup bermasyarakat. Life skills yang diperlukan untuk membekali siswa dengan kebutuhan yang diperlukan sebagai bekal hidup di masyakarat di antaranya adalah “lifelong learning, complex thinking, effective communication, collaboration, responsible citizen, dan employability” (Utah State Board of Education, 1996).

Life skills tentang “lifelong learning”, menurut dokumen yang  dikembangkan oleh Utah State Board of Education (1996), adalah seorang pembelajar sepanjang hayat yang telah memperoleh pengetahuan dasar dan telah mengembangkan kecakapan belajar yang mendukung pendidikan berkelanjutan, mendorong peranserta yang efektif dalam masyarakat yang demokratis dan memaksimalkan kesempatan untuk bisa bekerja. Ciri seorang siswa yang telah memiliki life skills tentang life long learning ini ditunjukkan dalam hal berikut:

  • Initiates own learning.
  • Demonstrates a positive attitude and personal responsibility for learning and personal development.
    • Takes risks to maximize learning and positive self-improvement.
    • Uses appropriate strategies to identify and meet needs and goals.
    • Organizes resources and time efficiently.
    • Uses reflection and feedback for self-evaluation and growth.
    • Continually refines skills and talent.
    • Adapts and adjusts to change.
    • Achieves high standards of literacy.
    • Demonstrates foundation skills and meets essential subject area standards.
    • Uses efficient and effective information management strategies to relate information and experience.
      • Applies knowledge and information to new situations.
      • Appreciates a variety of cultural contributions and artistic expressions.
      • Applies technology to live, learn and work successfully in an increasingly complex and information-rich society.
        • Manages information.
        • Uses appropriate information-seeking strategies.
        • Evaluates, interprets, organizes and synthesizes information.
        • Presents information in a variety of forms.
        • Demonstrates aesthetic awareness
        • Develops and uses criteria for evaluating authenticity, substance and excellence.
        • Develops an appreciation for the subtle beauties inherent in everyday life.
        • Engages in aesthetic activities for enjoyment and personal growth (Utah State Board of Education, 1996:2-3).

 

Sementara itu life skills tentang “complex thinking” adalah seorang pemikir yang komplek yang telah memperoleh berbagai kecakapan berfikir dan dia mampu untuk menggunakan life skills tersebut dalam situasi problem solving yang berbeda-beda. Ciri seorang siswa  yang dapat dikatagorikan telah memiliki life skills tentang complex thinking ini, menurut dokumen yang dikembangkan oleh Utah State Board of Education (1996), adalah  ditunjukkan dari kecakapan dalam: mendemontrasikan berbagai proses berfikir, menggunakan berbagai kecakapan  berfikir, memadukan berbagai kecapakan berfikir pada proses yang komprehensif, menggunakan proses berfikir bagi keperluan yang nyata dan abstrak, memadukan informasi baru dengan pengetahuan dan  pengalaman yang ada,  menggunakan proses berfikir untuk menterjemahkan informasi, mengorganisasikan dan mengelola informasi, menggabungkan informasi untuk keperluan baru dan unik, menerapkan kecakapan berfikir untuk konteks yang  strategis, mengenal dan memantau proses berfikir diri sendiri, memperkirakan konsekuensi dari pembuatan keputusan,  mempertimbangkan gagasan-gagasan baru dan berbagai perspektif untuk  memperluas dan meningkatkan pemahaman, mempertimbangkan alasan dan menjaga emosi dalam pembuatan keputusan, dan memadukan informasi baru  dengan pengetahuan dan pengalaman yang ada.

Sedangkan life skills tentang effective communication adalah seorang komunikator sosial yang efektif  berinteraksi dengan yang lain dengan menggunakan berbagai media seperti membaca, menulis, berbicara, mendengar, menggambar, menyanyi, memainkan instrumen, menari, bermain drama, dan memahat. Ciri seorang siswa yang telah memiliki life skills tentang effective communication ini ditunjukkan dalam hal-hal berikut:

  • Uses appropriate methods to communicate with others.
  • Plans, organizes and select ideas to communicate.
  • Is flexible and responsible in communication
  • Selects models of communication appropriate to the purpose, e.g.. reading, writing, listening, speaking, dancing, acting, drawing, singing, playing musical instruments.
    • Recognizes attributes of the audience.
    • Communicate clearly in oral, artistic, written and non-verbal forms.
    • Expresses ideas, feelings and beliefs aesthetically.
    • Communicates with others in a civil, respectful way to work towards common goals.
      • Responds appropriately when receiving communication.
      • Receives and understands ideas communicated through a variety of modes.
      • Accesses prior knowledge necessary to interpret information and construct meaning.
      • Support effective communication by seeking clarification and providing appropriate feedback.
        • Recognizes effective communication.
        • Adapts and adjusts communication to suit the needs of the intended audience (Utah State Board of Education, 1996:4).

 

Selanjutnya life skills yang relevan yang seyogyanya dimiliki siswa sebagai bekal untuk bisa hidup di masyarakat adalah “collaboration”. Life skills tentang collaboration ini diartikan sebagai seorang kolaborator siap bekerjasama yang mampu bekerja secara efektif dengan orang lain dalam mencapai hasil yang telah ditentukan. Seorang siswa yang bercirikan telah memiliki kepemilikan life skills ini, menurut dokumen yang dikembangkan oleh Utah State Board of Education (1996), ditunjukkan dalam hal: pemahaman yang proporsional  dan sesuai apakah ia seorang pemimpin atau seorang partisipan, berperan seolah-olah sebagai seorang pemimpin atau seorang partisipan secara benar, pergantian peranan dengan lancar, membimbing orang lain tentang kecakapan dan proses-proses baru, memfasilitasi kelompok secara efektif, menentukan tujuan yang ingin dicapai, mempertimbangkan berbagai gagasan dan memberikan saran-saran penyempurnaannya terhadap gagasan-gagasan itu, menemukan dasar pijakan di antara berbagai kepentingan, menghasilkan berbagai pilihan, mengevaluasi kualitas gagasan dan  hasil yang dicapai, kemampuan bekerja sampai selesai, mereview proses-proses kelompok dan menganalisis efektivitas, menggunakan sumberdaya secara efektif, mengidentifikasi sumberdaya yang diperlukan  untuk  keperluan pemecahan masalah, kemampuan bekerja secara efektif dengan sumber daya yang terbatas, kemampuan bekerja dengan berbagai orang, menghargai perbedaan dan  persamaan di antara anggota kelompok, membedakan individu dari peranan kelompoknya, menggunakan pengalaman dan latar belakang setiap individu untuk meningkatkan proses kelompok, menghargai perbedaan ethik dan budaya untuk membangun dengan cara yang positif, memperlakukan orang lain dengan disertai perasaan, merespon secara tepat terhadap hubungan yang rumit, menyeimbangkan kebutuhan pribadi dan kelompok, membangun konsensus, mengenal peranan dinamika  kelompok, dan menengahi konflik secara positif.

“Responsible citizen” juga adalah life skills yang relevan yang perlu dibekali kepada siswa untuk bekal hidup di masyarakat. Life skills tentang responsible citizen ini diartikan sebagai seorang warganegara yang berpartisipasi dalam masyarakat lokal dan dunia untuk mempromosikan kebajikan pribadi dan masyarakat. Ciri seorang siswa yang telah memiliki life skill tentang responsible citizen ini ditunjukkan dalam hal:

  • Demonstrates individual responsibility.
  • Recognizes own dignity, talents and skills.
  • Demonstrates integrity and dependability.
  • Uses appropriate strategies to resolve conflicts.
  • Recognizes how individual choices and action affects self, family and community.
  • Takes initiative to be informed about and act upon issues and events that affect society.
  • Practices, analyses and uses resources to promote wellness.
  • Engages in activities that promote physical, spiritual, social and emotional wellness.
  • Demonstrates ability to identify, avoid, escape or manage potential risk situations.
  • Balances work, personal responsibilities and leisure activities.
  • Understands and promotes the  democratic principles of freedom, justice and equality.
  • Acknowledges that all people have innate worth.
  • Demonstrates respect for human dignity, needs and rights.
  • Promotes law and order in society.
  • Respects and defends individual rights and property.
  • Practices democratic processes.
  • Participates in activities that promote the public good.
  • Understand economic, political, social and environmental systems.
  • Identifies and  accesses resources to solve problems.
  • Works toward improvement in society.
  • Demonstrates global responsibility and cross-cultural understanding (Utah State Board of Education, 1996:6-7).

 

Life skills relevan yang terakhir untuk keperluan pendidikan di sekolah yang seyogyanya perlu dibekali kepada siswa sebelum siswa terjun ke masyarakat adalah  “employability skills”. Life skill ini diartikan sebagai kemampuan seorang individu dalam bekerja yang sebelumnya dipersiapkan untuk  memperoleh dan mempertahankan pekerjaan yang digelutinya dan, individu itu mampu meningkatkan kariernya serta mampu mencari pengetahuan dan latihan tambahan yang  diperlukan untuk kebutuhan pekerjaannya. Ciri seorang siswa yang telah memiliki life skills ini, menurut dokumen yang dikembangkan oleh  Utah State Board of Education (1996), adalah ditunjukkan dari kecakapan dalam  hal: merencanakan karier, mengidentifikasi minat, kemampuan dan kualitas prilaku yang mengarah pada suatu karier, memiliki pengetahuan untuk memilih di antara berbagai karier, menunjukkan tanggungjawab bagi  perkembangan profesional, menunjukkan kemampuan secara efektif dalam sebuah sistem, menganalisis dan mengevaluasi organisasi dan stuktur sistem, mengevaluasi peranan diri dalam sistem, menunjukkan komitmen terhadap tujuan, nilai-nilai dan  etika sistem, kemampuan bekerja dalam sistem untuk membawa perubahan, dan bekerjasama dalam mencapai tujuan sistem.

 

Daftar Pustaka

Azis, Aminudin dan Hermawan, Ruswandi. (2001). Program Pengembangan Pendidikan SMU Berwawasan Bahasa Asing. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Delors, Jocques. (1996) Learning: The Treasure Within. Paris: Unesco.

Depdiknas.  (2002). Penjelasan Umum Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Pusat Kurikulum.

_________. (2000). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah: Laporaan Buku, Makalah, Skripsi, Tesis, Disertasi. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Gowin, D. Bob.  (1981) Educating. London: Cornell University  Press.

Satori, Djam’an dan Saud, Udin. (2001). Pola Induk Pengembangan Model Penerapan “Life Skills”dalam konteks Pendidikan di Sekolah Menengah Umum. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Southwest Educational Development Laboratory (SEDL). (1994) Total Quality: A Missing Piece for Educational Improvement? Volume 3, Number 3.

Utah State Board of Education. (1996) The Life Skills Document.